Sponsor

Senin, 03 Desember 2012

KEPEMIMPINAN BOS BERDAMPAK PADA KESEHATAN KARYAWAN



KEPEMIMPINAN seorang manajer atau bos di sebuah perusahaan ternyata dapat memberikan efek signifikan bagi kesehatan karyawan.
 
Buruknya skill leadership seorang bos ditambah penilaian buruk dari karyawan terhadap kinerja pimpinannya akan menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan, demikian laporan hasil riset terbaru para ahli di Karolinska Institute di Stockholm, Swedia.

Dalam risetnya, peneliti memantau sekitar 3.000 pekerja pria berusia rata-rata 42 dan telah bekerja selama 10 tahun. Hasil studi menemukan adanya hubungan yang kuat antara kualitas kepemimpinan dengan kesehatan para karyawan.

Peneliti menyimpulkan, para karyawan yang terjebak pada situasi tidak kondusif di kantor cenderung rentan mengidap penyakit jantung ketimbang mereka yang bekerja dengan bos yang supportif.
Selain itu, kaitan antara kepemimpinan dengan kesehatan karyawan juga tak dipengaruhi faktor lain seperti kelas sosial, tingkat pendapatan, kebiasaan merokok atau minum alkohol. Masalah-masalah yang timbul pun dapat bersifat kumulatif, artinya semakin lama seseorang bekerja dengan pimpinan yang buruk, semakin buruk pula kualitas kesehatan yang dimiliki.

Para ahli yang mempublikasikan riset ini dalam jurnal Occupational and Environmental Medicine – menganjurkan setiap perusahaan untuk membenahi dan memperbaiki kemampuan manajerialnya guna memelihara kualitas kesehatan karyawannya.

Sembarang minum Antibiotik ..(Waspadalah)


Sedikit berbagi tips kesehatan buat anda pengunjung website ini.

 
Beragamnya penyakit infeksi membuat kebanyakan orang segera berobat ke dokter meski hanya penyakit ringan. Rasanya tidak puas jika dokter tidak memberi obat apapun dan hanya memberikan penjelasan tentang penyakit dan perawatan sendiri di rumah.

Tidak peduli apakah penyebabnya virus atau bakteri, kebanyakan orang akan lebih tenang ketika dokter meresepkan antibiotik. Padahal, penggunaan antibiotik yang tidak tepat akan bukan hanya menghamburkan uang, namun juga akan berdampak buruk pada kesehatan. Di zaman yang serba modern seperti sekarang ini, kita dituntut untuk pro aktif dan kritis dengan pengobatan yang diberikan dokter, salah satunya adalah ketika dokter meresepkan antibiotik.

Mengenal Antibiotik
Banyak orang yang menganggap antibiotik adalah obat sakti melawan penyakit. Antibiotik merupakan substansi yang dihasilkan oleh mikroorganisme, yang dalam konsentrasi rendah mampu menghambat pertumbuhan atau membunuh mikroorganisme lain. Antibiotik adalah obat yang digunakan dalam penanganan pasien yang terbukti atau diduga mengalami infeksi bakteri dan terkadang juga digubnakan untuk mencegah infeksi bakteri pada keadaan khusus. Pengunaan antibiotik tidak boleh sembarangan dan hanya bisa didapatkan dengan resep dokter, karena penggunaan yang tidak sesuai indikasi justru akan menyebabkan resistensi (kebal) obat.

Seperti Apakah Penggunaan Antibiotik yang tidak tepat?
Pemakaian antibiotik yang tidak berdasarkan ketentuan (petunjuk dokter) menyebabkan tidak efektifnya obat tersebut sehingga kemampuan membunuh kuman berkurang atau bahkan menimbulkan resistensi. Ketidaktepatan penggunaan antibiotik terjadi dalam situasi klinis yang sangat bervariasi, meliputi:
  • Pemberian antibiotik pada keadaan tanpa adanya infeksi bakteri.
  • Pemilihan antibiotik yang salah atau tidak sesuai diagnosisi.
  • Dosis yang tidak tepat atau berlebihan.
  • Lama penggunaan antibiotik yang tidak tepat (menghentikan pengobatan sebelum waktunya karena merasa sudah sembuh).
  • Penggunan obat antibiotik suntik yang berlebihan pada penyakit yang dapat disembuhkan dengan obat yang ditelan (oral).
  • Pengobatan sendiri oleh pasien dengan cara mengkonsumsi antibiotik yang seharusnya diresepkan oleh dokter.
  • Penggunaan antibiotik berlebih untuk profilaksis (pencegahan) pada pembedahan bersih, khususnya pemberian antibiotik yang berlangsung lebih lama dari waktu yang direkomendasikan (kurang dari 24 jam pasca operasi). Keadaan ini antara lain disebabkan oleh berbagai faktor seperti pengetahuan dokter yang kurang, pengalaman masa lalu atau contoh dari kolega senior, harapan dan permintaan pasien, promosi industri farmasi, dan mudahnya pasien membeli antibiotik tanpa resep dokter.
Bahaya Penggunaan Antibiotik yang Tidak Tepat
Efek samping yang sering terjadi pada penggunana antibiotik adalah gangguan beberapa organ tubuh. Terlebih lagi bila diberikan kepada bayi dan anak-anak, karena sistem tubuh dan fungsi organ pada bayi dan anak-anak masih belum tumbuh sempurna. Gangguan organ tubuh yang bisa terjadi adalah gangguan saluran cerna, gangguan ginjal, gangguan fungsi hati, gangguan sumsum tulang, gangguan darah dan sebagainya.

Akibat lainnya adalah reaksi alergi karena obat. Gangguan tersebut mulai dari yang ringan, seperti ruam, gatal sampai dengan yang berat seperti pembengkakan bibir atau kelopak mata, sesak, hingga dapat mengancam jiwa atau reaksi anafilaksis.

Pemakaian antibiotik berlebihan atau irasional juga dapat membunuh kuman yang baik dan berguna yang ada di dalam tubuh kita. Sehingga tempat yang semula ditempati oleh bakteri baik ini akan diisi oleh bakteri jahat atau oleh jamur yang disebut “superinfection“. Pemberian antibiotik yang berlebihan akan menyebabkan bakteri-bakteri yang tidak terbunuh mengalami mutasi dan menjadi kuman yang resisten atau disebut “superbugs“.

Penggunaan antibiotik yang irasional menyebabkan bakteri yang awalnya dapat diobati dengan mudah menggunakan kenis antibiotik ringan akan bermutasi menjadi kebal, sehingga memerlukan jenis antibiotik yang lebih kuat. Bila bakteri ini menyebar ke lingkungan sekitar, suatu saat akan tercipta kondisi dimana tidak ada lagi jenis antibiotik yang dapat membunuh bakteri yang terus menerus bermutasi ini.

Makin Dini, Makin Beresiko
Penggunaan antibiotik pada anak memerlukan perhatian khusus. Mengapa demikian? bayi dan anak beresiko paling sering mendapatkan antibiotik, karena daya tahan tubuhnya yang lebih rentan sehingga lebih sering sakit. padahal, seperti halnya obat pada umumnya, antibiotik memeliki efek samping yang bisa muncul jika penggunaannya tidak tepat.

Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa penggunaan antibiotik yang terlalu dini pada anak (usia kurang dari 1 tahun) terutama antibiotik yang berspektrum luas, meningkatkan resiko terjadinya asma pada anak. Sehingga dianjurkan untuk tidak memberi antibiotik terutama yang berspektrum luas kepada anak usia kurang dari 1 tahun apabila tidak sangat diperlukan.

Kapan Kita Memerlukan Antibiotik?
Indikasi yang tepat dan benar dalam penggunaan antibiotik adalah bila penyebab infeksi tersebut adalah bakteri. Menurut CDC (Centers for Disease Control and Prevention), indikasi pemberian antibiotik adalah:
  • Batuk dan pilek terjadi sepanjang hari (bukan hanya pada malam hari dan pagi hari) yang berkelanjutan selama lebih dari 10-14 hari dan disertai dengan cairan hidung mukopurulen (kuning atau hijau). Bila batuk dan pilek yang berkelanjutan terjadi hanya pada malam hari dan pagi hari (bukan sepanjang hari) biasanya berkaitan dengan alergi atau bukan lagi dalam fase infeksi, sehingga tidak perlu antibiotik.
  • Bila terjadi gejala infeksi sunusitis akut yang berat seperti panas > 39ÂșC dengan cairan hidung purulen (kental), nyeri, bengkak di sekitar mata dan wajah.
  • Radang tenggorokan karena infeksi kuman streptokokus. Untuk mengetahui apakah ada infeksi bakteri biasanya dengan melakukan klutur (pembiakan bakteri) yang membutuhkan beberapa hari untuk observasi
  • Infeksi saluran kemih. Untuk mengetahui apakah ada infeksi bakteri biasanya dengan melakukan kultur urin. Setelah beberapa hari akan diketahui bila ada infeksi bakteri, berikut jenis dan sensivitasnya terhadap antibiotik.
  • Penyakit tifus. Selain dari anamnesis (wawancara) dan pemeriksaan fisik, untuk mengetahui penyakit tifus perlu dilakuakan pemeriksaan darah Widal dan kultur darah gal.
Gunakan Antibiotik Secara Tepat
Berikut ini beberapa tips penggunaan antibiotik yang benar:
  • Menggunakan antibiotik hanya berdasarkan resep dokter, yaitu dengan dosis dan jangka waktu sesuai resep.
  • Minum antibiotik sampai habis sesuai dengan petunjuk dokter dan jangan menghentikan sebelum waktu yang dianjurkan hanya karena merasa sudah sembuh.
  • Menanyakan pada dokter, obat mana yang mengandung antibiotik.
  • Jangan menggunakan atau membeli antibiotik hanya berdasarkan copy resep sebelumnya (tanpa periksa lagi ke dokter). Karena salah menggunakan antibiotik menyebabkan obat menjadi tidak efektif lagi dan bahkan bisa menimbulkan resisten (kebal) obat.
  • Pilek, batuk, dan diare umumnya tidak memerlukan antibiotik. Usahakan banyak minum, cukup makan makanan bergizi, dan istirahat. Jika demam lebih dari 3 hari, periksakan ke dokter.
Referensi:
  • Kementrian Kesehatan RI. Buku Panduan “Gunakan Antibiotik Secara Tepat Untuk Mencegah Kekebalan Obat”. Tahun 2011
  • Prof. Iwan Dwiprahasto, “Evidence Based Medicine Guide to Antibiotic User”. Buku Clinical Updates, Practicing Current Issues in Medicine. Tahun 2010. Penerbit Cendekia Press, Yogyakarta
  • Simposium and Workshop “Pediatric Update”. Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan I. Bagian Ilmu Kesehatan Anak UNS/RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Tanggal 26-27 Maret 2011
  • James Chin, MD, MPH (editor) . Buku “Manual Pemberantasan Penyakit Menular” Edisi 17. Tahun 2000. Penerbit America Public Health Association.
  • Sumarno S, Buku Infeksi dan Penyakit Tropis Edisi 1, Tahun 2002, Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universita Indonesia, Jakarta
Referensi:
-Majalah Assunnah No. 07  Thn. XV Dzulhijjah 1432 H November 2011M. Baituna Edisi 07 Thn.  Thn. XV Dzulhijjah 1432 H November 2011M hal. 13.14
-akbarkurniawan.web.id/jangan-sembarangan-minum-antibiotik

Sering Sakit Kepala ..Jangan Remehkan

 

Sakit kepala rasanya memang tidak menyenangkan. Meski sakit kepala bisa disembuhkan dengan obat, tapi tidak boleh dianggap remeh.

Dokter spesialis saraf, Dr dr Akbar SpS menjelaskan, sakit kepala adalah nyeri yang tidak mengenakkan di seluruh daerah bagian kepala. Yaitu mulai dari bawah dagu sampai di belakang kepala.

Penyakit ini tidak boleh dianggap enteng sebab bisa jadi gejala sebuah penyakit kronis. Akbar mengungkapkan, penyakit kepala dibedakan menjadi dua. Yakni sakit kepala primer dan sekunder.

“Dalam dunia kedokteran, sakit kepala primer adalah sakit yang tak memiliki gejala, alias tanpa ada kelainan anatomi. Sedangkan sakit kepala sekunder adalah sakit kepala yang disertai kelainan anatomi atau karena adanya penyakit,” kata Akbar, saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa 6 November.

Lebih lanjut ia menjelaskan, jenis sakit kepala seperti migrain, cluster, sakit kepala tipe tegang merupakan jenis sakit kepala primer. Dikatakan primer, karena nyerinya muncul tanpa penyebab dan bisa berlangsung lama. Sedangkan sekunder, bisa muncul tiba-tiba dengan serangan yang sangat hebat.

Hal ini bisa jadi karena adanya pendarahan di otak. Atau, bisa juga karena tumor otak. Jika tumor otak atau pendarahan otak, maka gejalanya adalah sakit kepala yang berlangsung lama dan berat.

“Sakit kepala ini tidak boleh dianggap enteng. Karena sakit kepala bisa jadi gejala dari suatu kelaianan dan bisa jadi penyakit,” tambahnya.

Hal senada juga diungkap dokter spesialis saraf lainnya, Dr dr Jumraini SpS. Menurutnya, sakit kepala sangat mengganggu aktivitas. Ia membeberkan, jenis sakit yang banyak dikeluhkan adalah sakit kepala sebelah atau migrain. Serangan sakit kepala migrain terasa lebih menyiksa dan terkadang datang tiba-tiba.

“Penderita migrain akan merasakan nyeri dan berdenyut seperti dipukuli dan ditarik-tarik. Biasanya, disertai dengan gangguan saluran cerna seperti mual dan muntah. Penderitanya pun cenderung menjadi lebih sensitif terhadap cahaya, suara, dan bau-bauan. Hal itu tentu amat mengganggu dan bisa menghambat segala aktivitas si penderita,” terangnya.

Jumraini menjelaskan, sakit kepala primer bisa sembuh sendiri tapi dengan catatan, menghilangkan penyebabnya. “Penyebab sakit kepala primer ini bisa karena stres, tegang, dan sebagainya. Tidak hanya tindakan mengambil obat untuk menghilangkan sakit kepala. Namun juga penting mengetahui jenis dan penyebab sakit kepala yang dialami sebelum menentukan obat yang sesuai,” jelas Jumraini.

Lebih lanjut ia menjelaskan, sakit kepala karena ketegangan otot, memiliki ciri khas. Seperti sakit kepala sering terjadi, nyeri hilang timbul, tidak terlalu berat, dan diarasakan bagian depan hingga kebelakang secara menyeluruh. Sedangkan migrain, nyeri terjadi di dalam pelipis, terjadi disekitar mata atau pelipis, berdenyut pada satu sisi kepala dan kadang disertai mual dan muntah.

Sementara Akbar menjelaskan, ciri dari sakit kepala sekunder yang disebabkan karena adanya kelainan antomi seperti tumor otak adalah nyeri bersifat ringan sampai berat. Sakitnya bisa dirasakan di satu titik atau di seluruh kepala, mengganggu penglihatan, dan perubahan mental.

“Jika terjadi sakit kepala seperti ciri-ciri yang disebutkan di atas, maka penyebabnya harus dihilangkan. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, jika sakitnya karena stres maka stres ini harus dihilangkan. Begitu juga dengan sakit kepala yang disebabkan tumor otak atau infeksi dan pendarahan otak. Mau tidak mau harus dilakukan pengangkatan,” ucap Akbar.

Masih kata dia, masyarakat perlu mengetahui ciri-ciri sakit kepala yang kerap diderita. Sehingga, bisa mengetahui jenis sakit kepalanya. Sebab, sakit kepala yang tergolong ringan bisa diobati dengan obat anti sakit kepala.

Kendati demikian, dua dokter saraf ini menganjurkan agar melakukan pemeriksaan jika merasakan sakit kepala lama dan berat. Sebab, bisa jadi tanda sebuah penyakit di dalam kepala.