Bangkrut menjalankan bisnis bukan akhir segalanya. Berawal dari
kebangkrutan, Hary Susetyo kini justru sukses mengembangkan usaha lukis
kain. Bekerja di perusahaan besar tidak selamanya menjanjikan kepuasan.
Hary, yang sudah sembilan tahun menjadi pekerja di perusahaan perikanan
di Bali, akhirnya memilih untuk memulai usaha sendiri. Pilihan pertama
menjadi distributor pakan udang. Usaha itu dirintisnya di Bali, tempat
dia dan keluarganya tinggal.

Namun, usaha awal itu hanya berumur 1,5 tahun. “Usahanya bangkrut dan kami kehabisan modal,” ujarnya, belum lama ini.
Bangkrut
merintis usaha pertama ternyata tak disesali alumnus Fakultas Perikanan
Universitas Brawijaya, Malang ini. Dia juga pantang pulang ke
rumah
keluarganya di Pakis, Kabupaten Malang, Jawa Timur, dalam kondisi
bangkrut. Segala daya upaya dilakukan. “Upaya ini saya lakukan sebagai
bentuk usaha untuk bertahan,” tuturnya.
Pada saat kondisi serba
terbatas, bapak empat anak ini mulai mencoba mengembangkan usaha
kecil-kecilan, termasuk membuka layanan jasa menjahit baju bersama
istrinya, Indah Nur Qoriah. Dalam kondisi serba terbatas, secara
kebetulan ada seorang konsumen yang akan menjahitkan baju.
Konsumen
tersebut datang membawa lembaran kain yang dilukis. Melihat kain
tersebut, Hary sangat tertarik. Berbekal hobi melukis, dia bersama
istrinya mulai mencoba untuk melukis kain seperti milik konsumen
tersebut. Hasil awalnya tidak maksimal. Banyak gambar yang akhirnya
rusak lantaran catnya terserap kain. Namun, dia tetap mencoba. Berbagai
uji coba dilakukan, termasuk mencari bahan cat yang tepat untuk melukis
kain. Cat itu dicari mulai dari Denpasar, Surabaya, hingga ke
Yogyakarta.
Setelah sekian waktu bereksperimen, dengan modal
serba pas-pasan, akhirnya karya pertama jadi. “Konsumen saya yang
menjahitkan baju tadi ternyata tertarik. Dia bilang ingin dibuatkan,”
kenangnya. Begitu mendapatkan pesanan, Hary mulai mencoba untuk
membuatnya lagi. Dia bahkan berani untuk menawarkan kerja sama ke
sejumlah toko kain. Toko menyediakan kain, dia yang melukis. Karyanya
sempat dibawa ke desainer di Jakarta.
Upaya ke Jakarta itu tidak
sia-sia. Pesanan mulai datang meski jumlahnya masih terbatas. Melihat
usahanya mulai diminati konsumen, Hary memutuskan untuk pindah ke
tanah kelahirannya di Pakis, Kabupaten Malang. “Saya berpikir, dengan kembali ke Malang, usaha ini akan dapat besar,” katanya.
Dia pindah ke Malang pada 2002. Menempati
rumah sederhana di Jalan Raya Asrikaton 36 A, Desa Asrikaton, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Hary mencoba membesarkan usaha.
Awalnya
hanya ada dua pekerja yang ikut dengannya. Begitu usaha ini berjalan
sekitar satu tahun, pesanan mulai membanjir dan jumlah pekerja akhirnya
ditambah hingga mencapai 12 orang. “Waktu itu usaha lukis kain masih
jarang yang melakukan, sehingga banyak yang mencari. Konsumen bahkan
datang dari seluruh wilayah di Indonesia," tuturnya.
Usaha kerasnya ini tidak sia-sia. Bila dibandingkan dengan saat dia bekerja di perusahaan swasta,usaha
Mandiri
ternyata lebih menjanjikan. Buktinya, baru membuka usaha sekitar satu
tahun, dia mengaku sudah bisa membeli mobil untuk operasional usaha.
Omzet usahanya terus merangkak naik. Dari jasa melukis kain, setiap
bulan dia memiliki omzet tidak kurang dari Rp15 juta. Jiwa wirausahanya
memang sangat tinggi. Sukses yang mulai dirasakannya tidak membuatnya
jumawa. Dia terus membuat inovasi untuk mengembangkan usaha. Hary
merambah usaha sepatu lukis, mukena lukis, dan rok lukis.
Mukena
lukisnya bahkan sudah dipasarkan ke Malaysia. Kemudian lukisan kain juga
sudah dikembangkan dengan model timbul. Jiwa petualang dan suka
tantangan membuatnya terus mengembangkan usaha ini. Pada 2009 dia
menjalin kerja sama dengan
BNI
Syariah. Dia mendapatkan bantuan modal usaha Rp150 juta. Berkat
pinjaman modal itu, omzet usahanya naik signifikan. Dari sebelumnya
hanya sekitar Rp15 juta per bulan berkembang menjadi Rp60 juta per
bulan.
Berkat bantuan modal ini, dia mampu mengembangkan usaha
dari yang awalnya hanya usaha jasa, kini menjadi produksi. Dia bahkan
mulai mencoba melayani pesanan batik tulis kreatif. “Banyak manfaatnya,
kerja sama dengan
BNI
Syariah tersebut lantaran pengembangan usaha menjadi semakin mudah.
Istilahnya, bisa menjadi modal kami untuk berlari lebih cepat dalam
mengembangkan usaha ini,” ucapnya. Pertumbuhan usaha ini tentu berdampak
pada kebutuhan tenaga kerja.
Dari yang awalnya hanya 15 orang,
kini sudah berkembang menjadi 50 orang. Semua pekerja berasal dari
masyarakat sekitar. “Jadi pengusaha itu banyak bisa beramal. Salah
satunya memberikan lapangan kerja,” katanya.
Saat ini dia sudah
membuka dua lokasi usaha yakni di Jalan Raya Asrikaton 36 A, yang
merupakan tempat untuk galeri serta proses finishing, dan di Kecamatan
Jabung, Kabupaten Malang, sebagai tempat produksi. Pemilik CV Indah
Setya dan Cantiq Butiq ini juga mengembangkan produksi cat khusus untuk
kain.
Dia akan memasarkan cat racikannya sendiri mulai bulan
depan. Dia juga menyediakan pelatihan untuk membuat lukis kain, lengkap
dengan peralatannya. Pelatihan juga dia berikan kepada para remaja yang
menuntut ilmu di Pondok Pesantren Gubuk, Kecamatan Jabung, Malang.
Selain ilmu agama, para remaja itu juga diberikan keterampilan sebagai
bekal untuk usaha
Mandiri.
Sekarang
Hary juga dipercaya oleh Dinas Koperasi Provinsi Jawa Timur untuk
menjadi instruktur lukis kain dan batik kreatif. Bagi Hary, berbagi ilmu
dengan banyak orang itu tidak akan merugikan. “Bahkan kalau semakin
banyak yang membuka usaha, jadinya akan semakin ramai dan produknya
banyak,” ungkapnya.
Sumber : http://ciputraentrepreneurship.com